Selasa, 12 Juni 2012

Tangisan si Kupu-Kupu Malam


Wajah penuh keceriaan dan pesona terlihat dari bibir yang sedikit keluh. Seperti ada sesuatu yang selalu jadi pikirannya. senyumnya yang mempesona seolah terpaksa seakan di dalamnya tersimpan duka yang mendalam. Dia adalah teman ku. Sosok wanita yang kukenal dengan baik saat aku menginjakan kaki di pulau sumatera. Cantik, Menarik, Anggun dan mempesona.
Setiap hari aku selalu melihatnya pergi ke musholla jika waktu shalat sudah tiba. Saat shubuh tiba dia selalu menelphon atau sms untuk membangunkan ku. Dia begitu ramah dan lembut. tak sedikit laki-laki yang ingin menjadi pengisi hatinya. Namun dia selalu menolak, entah apa yang dipikirkannya.
Setelah lama kuperhatikan, Ternyata disamping murah senyum dia juga sering melamun. terkadang juga aku melihatnya menangis. Saat kutanya kenapa dia menangis dia hanya menjawab “tak apa-apa, Aku hanya bosan”. Sekilas aku tahu bahwa ada sesuatu yang dia pendam yang tidak diketahui siapapun. Aku ingin membantunya, tapi aku tidak berani bertanya lebih dalam lagi.
Pada suatu waktu kami makan di sebuah restoran. sambil makan kamipun berbincang-bincang dan aku berkata “Usia mu sudah 22, kenapa kamu tidak mulai merancang hidup mu..? misalnya memilih pasangan hidup mu..!” dia pun menjawab “Aku belum memikirkannya. Lagipula apa ada yang mau menerimaku..? kalo boleu tahu, dari sisi apa kamu memilih seorang teman..?” tanya nya padaku. “Bagiku tak masalah teman ku seperti apa, bagaimanapun latar belakangnya dan apapun status sosialnya aku tak perduli. Yang paling penting, mereka baik pada ku dan aku merasa nyaman dengan mereka.” Jawab Ku..!
Suatu malam aku merasa suntuk dan rasanya aku ingin keluar rumah, rasa suntuk itu terus berlanjut sampai jam 2 malam. Kemudian aku putuskan untuk keluar rumah dengan tujuan mencari suasana segar. aku berniat untuk mencari makan dan setelah itu pergi kerumah teman ku yang memang dia selalu bergadang.
Aku berjalan menyusuri jalan dengan switter tebal dan tudung kepala. Saat sedang berjalan datanglah seorang wanita menghampiri ku dengan tingkahnya yang genit. Sungguh terkejutnya aku saat kulihat bahwa wanita itu adalah teman ku.
Astagfirullah… kamu ngapain disini..? kenapa kamu begini..? Dia terdiam dan tiba-tiba air matanya berderai dan memelukku. “Maafkan aku jika kamu merasa telah aku bohongi. Terserah jika kamu mau membenci ku. Tapi aku mohon 1 Hal, jangan beritahu siapapun tentang ini. jangan beritahu teman-teman yang lain.” Akupun terdiam, sambil ku angkat kepalanya aku tersenyum dan berkata. “Engkau akan tetap menjadi teman ku, aku tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun.”
Keesokan harinya, aku lihat dia tidak masuk kerja. Hp nya juga tidak aktif. lalu aku bertanya pada temannya dan aku memintanya untuk mengantarkan aku ke rumahnya. Saat sampai dirumahnya, temannya yang mengantarkan ku langsung bergegas pergi kembali.Aku mulai mengetuk pintu dan dia pun membuka pintu rumahnya.
Aku sangat kaget saat dia menceritakan semuanya. Rumahnya adalah rumah kontrakan dan di dalamnya ada 8 orang anak-anak. 4 diantaranya adalah adik kandungnya dan sisanya adalah anak yatim yang dia urus. Ibunya telah tiada dan ayahnya telah meninggalkannya. Jadi dia menjadi tumpuan untuk anak-anak itu. dia harus mencari nafkah untuk menghidupi 8 orang anak, dan juga biaya sekolah mereka.
Wallahu a’lam.. aku tidak bisa berkomentar bagaimana hukumnya di hadapan Allah. Namun aku salut akan perjuangannya.meskipun harus mengorbankan dirinya. Dia hidup dalam kegelisahan dan kesedihan yang hanya ditanggungnya sendiri. disamping itu dia tidak meninggalkan penghambaannya pada Allah. setelah itu akupun ikut membantu, aku mengajaknya mencari sampingan lain yang lebih halal dan meninggalkan profesi nya. Aku coba mencari sumbangan pada teman-teman ku dan akhirnya uang itu kugunakan untuk berjualan dan kemudian dia yang meneruskannya.
Aku harus pergi, karena tugas ku telah usai. aku harus kembali ke bandung dan mungkin akan pergi ketempat lain lagi.
Sekarang, aku bisa melihatnya lebih ceria. Beban yang selama ini ditanggungnya sendiri kini mulai terasa ringan. sekarang kita terpisah lagi dan aku  tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi.
Teruskan perjuangan mu teman ku. Jadilah lebih baik saat kita bertemu lagi…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar