Selasa, 12 Juni 2012

Rp.

Rp.

sambil menggigit jari dan hatinya sendiri
anakku nangis; sekedar permen yang ia pingin
tak sanggup kubeli tawa paling sederhana
wajah riang dijajal begitu mahal di pasaran.

ia masih menangis bahkan setelah kujanji bulan dan bintang
nanti malam, bahkan setelah kurayu-gombal Ibunya
tengah pergi ke pasar.

lalu, di halaman kulirik Tuhan sedang apa?
aduh sayang mataku terhalang awan membentuk sketsa
wajah-wajah entah siapa makan begitu lahap
di atas meja sebelah tumpukan kertas dan agenda.
sekali lagi kulirik Tuhan dan tiba-tiba langit gelap
aku hanya bisa meraba nasib kian kabur.

tak bisa kubayang lagi sekedar kincir angin berputar
-asin garam?
dan sekedar permen yang diangan sepanjang hari,
tak sanggup kuredam tangis anakku dan
aku, juga tawamu setelah kenyang dan sidang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar